Ringkasan Berita
Badan Pusat Statistik melapor terjadi kenaikan inflasi pada Agustus 2026 secara tahunan.
Kelompok pangan, seperti daging dan beras, masih menjadi penyumbang inflasi.
Fenomena El Niño di berbagai wilayah di Indonesia bisa menjadi faktor pendorong inflasi berikutnya.
INDIKATOR ekonomi nasional pada awal September 2026 dibuka dengan kenaikan inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Agustus 2026 terjadi inflasi 3,19 persen secara tahunan (year on year). Angka inflasi ini lebih tinggi daripada bulan sebelumnya yang tercatat 2,88 persen.
Kondisi tersebut juga kontras bila dibandingkan secara bulanan (month to month) di mana yang terjadi justru deflasi sebesar 0,14 persen pada periode Juli 2026. “Terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 108,51 persen pada Agustus 2025 menjadi 111,97 persen pada Agustus 2026,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.
BPS mencatat komponen utama penyumbang inflasi pada periode Agustus masih didominasi kelompok pangan, yakni daging ayam ras, ikan, minyak goreng, dan beras. Sedangkan kelompok lain selain itu adalah emas dan biaya transportasi.
Tempo perlu menyoroti perkembangan inflasi yang terjadi, khususnya pada triwulan II 2026. Salah satu alasannya ialah peringatan El Niño atau musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang dan terjadi dengan intensitas kuat di Indonesia. Bahkan peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional, Erma Yulihastin, menilai ada peluang fenomena El Niño bisa bertahan hingga awal 2027.
Sejauh ini, dampak yang sudah terlihat dari musim kemarau tahun ini ialah kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah, terutama daerah yang menjadi sentra pertanian atau pangan. Mengutip Antara, Kementerian Pertanian mencatat, hingga saat ini diprediksi ada 30 ribu hektare lahan sawah yang dilanda kekeringan.
Secara khusus, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 43 persen wilayah di Jawa Barat tengah mengalami kekeringan ekstrem atau tak mendapat hujan hingga lebih dari 60 hari. Luasan yang didasari pemantauan sepanjang Agustus 2026 ini bertambah 6 persen dibanding Juli 2026.
Kondisi ini sudah seharusnya menjadi perhatian dan sinyal untuk pemerintah. Sebab, pasokan air merupakan elemen paling krusial di sektor pertanian. Sedangkan di sisi lain, kelompok pangan seperti beras masih cukup konsisten menyumbang inflasi setiap tahun.
Atas dasar itu, jurnalis Tempo, Anastasya Lavenia Yudi, berupaya menyoroti peristiwa El Niño yang terjadi sejak pertengahan tahun ini dengan laporan inflasi yang dikeluarkan BPS. Anastasya mewawancarai beberapa narasumber untuk menjelaskan kenaikan inflasi. Dua di antaranya ialah ekonom BCA David Sumual serta Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Ateng Hartono.
David menilai El Niño belum sepenuhnya berkontribusi pada inflasi. Meski demikian, kondisi cuaca berpotensi menjadi faktor penguat inflasi ke depannya. Sementara itu, Ateng mengatakan, ada banyak faktor yang menggerakkan harga pangan dan fenomena El Niño yang terjadi saat ini tidak bisa dinilai sendiri. Selain pergerakan harga pangan, produksi dan kelancaran arus barang menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.
Selain soal cuaca, Anastasya meminta penjelasan Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman ihwal faktor apalagi yang berpotensi mendorong inflasi ke depan. Faisal memproyeksikan inflasi dapat melampaui perkiraan saat ini jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan menyebabkan kenaikan harga energi global yang berkepanjangan. Kondisi tersebut berpeluang meningkatkan tekanan bagi pemerintah untuk menaikkan harga energi bersubsidi.
Untuk mengetahui mengapa inflasi terjadi selama periode Agustus dan seperti apa proyeksi ke depannya, Anda bisa membacanya dalam laporan berjudul "Mengapa Inflasi Kembali Melonjak" dan "Waspada Inflasi Bertahan di Level 3 Persen".
